Pak Slamet dan Kopi Gedongsongo

Petunjuk Hidup dari Lereng Gunung Ungaran

Di balik aroma kopi hangat dari sebuah warung sederhana di kawasan Candi Gedongsongo, tersimpan kisah hidup yang dalam dan inspiratif. Ia bukan sekadar petani kopi—namanya Pak Slamet, sosok yang menemukan kembali arah hidupnya dari tanah yang dulunya hanya ia injak tanpa makna.

🌱 Awal Perjalanan: Dari Keterpurukan Menuju Kebangkitan
Hidup Pak Slamet dahulu jauh dari kata ideal. Ia menjalani pekerjaan serabutan—apa pun yang menghasilkan uang, tak peduli asal muasalnya. Hingga suatu hari, sebuah kecelakaan mengubah segalanya: kakinya mengalami cacat permanen.

Namun, di tengah keterbatasan fisik dan ketiadaan arah, ia justru menemukan ketenangan melalui alam. Di tanah vulkanis Gedongsongo yang subur, perlahan ia melihat pertumbuhan tanaman kopi yang mengajarkannya tentang kesabaran, ketekunan, dan arah hidup.

🍃 Kopi: Petunjuk Tuhan yang Tak Terduga
Tanaman kopi bukan hanya tumbuh di ladang—ia juga tumbuh dalam hati Pak Slamet. Ia mulai belajar merawat, mengolah, dan memahami kopi. Dari proses itu, ia menyadari bahwa kopi bukan sekadar tanaman, melainkan petunjuk dari Tuhan.

Kini, dari hasil kerja keras dan ketulusannya, Pak Slamet memproduksi kopi berkualitas tinggi yang tumbuh di ketinggian lereng Ungaran. Karakter rasa kopi arabika dari kawasan Gedongsongo—yang dipengaruhi tanah vulkanis aktif dan hutan lindung alami—menjadi salah satu kekuatan utama produknya: kompleks, seimbang, dan beraroma khas pegunungan Jawa Tengah.

Sebagai orang yang sangat terhubung dengan alam, Pak Slamet juga terus menyuarakan pentingnya menjaga dan merawat lingkungan.

“Saya merawat alam, dan alam balas dengan cara yang luar biasa. Kalau semua orang mulai dari hal kecil, seperti tidak menebang pohon sembarangan, atau menjaga air tetap bersih, alam pasti akan memberi kembali. Saya sudah merasakannya sendiri.”

🌍 Dari Lereng Ungaran ke Dunia
Kopi hasil olahan Pak Slamet kini telah menembus pasar internasional. Produk-produknya telah diekspor ke luar negeri dan mendapatkan apresiasi dari para penikmat kopi mancanegara.

Namun menariknya, meskipun ia memiliki kesempatan untuk menjual seluruh hasil panennya ke pasar ekspor demi profit maksimal, Pak Slamet memilih untuk tetap berbagi dengan pasar lokal. Baginya, relasi dengan sesama petani, pembeli lokal, dan masyarakat sekitar jauh lebih berarti.

“Saya ingin masyarakat di sekitar sini tetap bisa menikmati kopi dari tanah mereka sendiri,” ujar Pak Slamet.

Keputusan ini menjadi bukti bahwa semangat gotong royong dan nilai kemanusiaan tetap menjadi pondasi utama perjuangannya.

🏡 Sanggar Kopi: Tempat Kembali ke Akar
Kini, Sanggar Kopi milik Pak Slamet bukan hanya tempat menyeduh kopi. Ia menjadi ruang berbagi, belajar, dan menghargai tanah serta prosesnya. Dari pengunjung lokal hingga wisatawan mancanegara, semua datang bukan hanya untuk mencicipi kopi, tapi juga merasakan makna di baliknya.

🤝 Apresiasi dari Thoriqoffie
Di *Thoriqoffie, kami percaya bahwa kopi bukan sekadar komoditas, tapi juga *kisah perjuangan, identitas tanah, dan bentuk cinta terhadap sesama.

Sebagai bentuk apresiasi terhadap perjuangan Pak Slamet, kami menghadirkan kopi olahan beliau sebagai salah satu varian utama kami: Arabica Gunung Ungaran.

Melalui produk ini, kami berharap lebih banyak orang dapat menikmati kopi yang bukan hanya nikmat, tapi juga sarat nilai dan makna.

☕ Menyesap Kehidupan dalam Secangkir Kopi
Kisah Pak Slamet mengajarkan bahwa setiap manusia memiliki kesempatan kedua, asalkan mau mendengar bisikan alam dan belajar dari tanah tempat kita berpijak. Dan di lereng Gedongsongo, bisikan itu hadir lewat aroma kopi yang hangat—aroma kehidupan baru.

Subscribe